Perbedaan Mani Laki-laki dan Wanita

Rate this posting:
{[['', '', ''], ['', '', ''], ['', '', ''], ['', '', ''], ['', '', '']]}
Home » Asy Syariah Edisi 007 » Perbedaan Mani Laki-laki dan Wanita

Apakah wanita juga keluar mani sebagaimana halnya laki-laki? Bila ya, bagaimana ciri-cirinya? Dan apa yang harus dilakukan?

(Ummu Fulan di Bumi Allah)


Jawab :
Wanita juga keluar mani sebagaimana laki-laki. Dengan mani itu, muncul sifat identik sang anak, apakah memiliki kemiripan dengan ayah atau dengan ibunya. Ketika ditanyakan hal ini kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam, beliau berkata:


“Iya, darimana adanya persamaan anak (dengan ayah atau ibunya kalaupun bukan  karena mani tersebut)?” (Shahih, HR. Muslim no. 310)


Namun mani wanita berbeda dengan laki-laki, seperti yang disabdakan Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam:


“Mani laki-laki itu kental dan berwarna putih sedangkan mani wanita encer dan berwarna kuning.” (Shahih, HR. Muslim no. 310, 315)
Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah  berkata: “Adapun mani wanita berwarna kuning dan encer. Namun terkadang warnanya bisa memutih karena kelebihan kekuatannya. Dan mani wanita ini bisa ditandai dengan dua hal : Pertama, aromanya seperti aroma mani laki-laki. Kedua, terasa nikmat ketika keluarnya dan setelah keluarnya, syahwatpun mereda.” (Syarah Shahih Muslim, 3/223)


Sebagaimana halnya laki-laki, bila seorang wanita keluar mani, karena senggama maupun ihtilam (mimpi senggama), maka ia wajib mandi. Hal ini pernah ditanyakan oleh Ummu Sulaim Radhiyallahu 'anha  kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam. Ketika datang menemui Rasulullah, Ummu Sulaim berkata:


“Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam?” Rasulullah menjawab: “Ya, apabila ia melihat mani yang keluar.” (Shahih, HR. Muslim no. 313)


Dalam Al-Majmu’ (2/158), Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Ulama sepakat wajibnya seseorang mandi bila keluar mani, dan tidak ada perbedaan menurut kami apakah keluarnya karena jima’ (senggama), ihtilam, onani, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat, atau pun keluar mani tanpa sebab. Dan sama saja apakah keluarnya dengan syahwat atau pun tidak, dengan rasa nikmat atau tidak, banyak atau pun sedikit walaupun hanya setetes, dan sama saja apakah keluarnya di waktu tidur atau pun di waktu jaga,  baik laki-laki maupun wanita.”1
Wallahu a’lam.







1) Ungkapan An-Nawawi: ‘menurut kami’, maksudnya menurut madzhab kami yaitu Asy-Syafi’iyyah, karena permasalahan ini (mani yang keluar tanpa sebab) adalah khilafiyyah, sebagaimana telah kami terangkan dalam Rubrik Problema Anda Vol. I/No. 05, hal. 55, tentang pendapat jumhur ulama bahwa mani yang keluar tanpa syahwat, tidak disertai rasa nikmat ketika sedang terjaga maka tidak mewajibkan mandi dan hanya menimbulkan hadats kecil saja. Silakan pembaca memilih pendapat yang paling kuat. (ed)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar