Download Audio Mendulang Faidah Ilmu dari Kitab Iqtidha Shirathal
Mustaqim-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Download Audio Mendulang Faidah Ilmu dari Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqim-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ


Download Audio Kajian Rutin Islam Ilmiyah Bandung


2 Dzulhijjah 1435H
Ustadz Abu Hamzah Yusuf Hafizhohulloh
(Redaktur Majalah Asy Syari'ah dari Tasikmalaya)


Tempat:
Masjid Ma’had Adhwa ‘Us Salaf Cileunyi


“Tausiyyah Seputar Fitnah Tamyi' (Manhaj Lembek) dalam Dakwah”
1. Tausiyyah Seputar Fitnah Tamyi' (Manhaj Lembek) dalam Dakwah (Ustadz Abu Hamzah Yusuf) 2 Dzulhijjah 1435H


1. Tanya Jawab


MASJID AGUNG KOTA CIMAHI
(Samping Alun-Alun Kota Cimahi)


"Mendulang Faidah Ilmu dari Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqim"
1. Mendulang Faidah Ilmu dari Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqim-(Ustadz Abu Hamzah Yusuf ) 2 Dzulhijjah 1435 H


:: Semoga Bermanfaat ::
بارك الله فيكم

Download Audio Kitab HUQUQUL AULAAD-Ustadz Abu Najm Khotib

Download Audio Kitab HUQUQUL AULAAD-Ustadz Abu Najm Khotib

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ


Download Audio Kajian Islam Ilmiyah Bandung


25 Dzulqo’dah 1435H
Ustadz Abu Najm Khotib Hafizhohulloh (Pengasuh Ma’had An-Nur Al-Atsary Banjarsari, Ciamis)


Tempat:
Masjid Ma'had Adhwa 'Us Salaf Cileunyi

"Thausiah Ba'da Maghrib"


1. Thausiah Ba'da Maghrib (Ustadz Abu Najm Khatib) 25 Dzulqa'dah 1435H



MASJID AGUNG KOTA CIMAHI
(Samping Alun-Alun Kota Cimahi)

"Kitab
HUQUQUL AULAAD (Hak-Hak Anak)"
(Karya Asy-Syaikh Abdulloh Al Bukhori
hafizhohulloh)


1. Huququl Aulaad (Ustadz Abu Najm Khatib) 25 Dzulqa'dah 1435H


:: Semoga Bermanfaat ::
بارك الله فيكم

QURBAN Keutamaan dan Hukumnya

QURBAN Keutamaan dan Hukumnya

QURBAN Keutamaan dan Hukumnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin)

Definisi

Al-Imam Al-Jauhari t menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:

1. Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ

2. Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ

Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).

3. ضَحِيَّةٌ dengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا

4.  أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى

Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil. Dikatakan secara bahasa:

ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ مُضَحٍّ

Al-Qadhi t menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”

Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi   dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)



Syariat dan Keutamaannya

Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.

Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah l:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.

Asy-Syinqithi t dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa …. menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”

Juga keumuman firman Allah l:

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”



Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau n dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib z:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَـحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)

Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik z:

ضَحَّى رَسُولُ اللهِ n بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَـحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَـمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Rasulullah berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)

Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi t dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi t dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya.

Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:

1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah l, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah l surat Al-Hajj ayat 36.

2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah n, karena beliau n telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.

3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah l berfirman:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)

Juga firman-Nya:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah l dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  t sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah l memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah l, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah l, janji, perintah, serta keutamaan-Nya….”

Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah l menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)

Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah l….”

Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat….”



Hukum Menyembelih Qurban

Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah x, Rasulullah n bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)

Sisi pendalilannya, Rasulullah n menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau n:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah x)



Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin t menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi n tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah d, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah z, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi n.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)

Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:

1. Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.

2. Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t)

Hadits yang menunjukkan kebolehan berqurban atas nama sang mayit adalah dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2790) dan At-Tirmidzi (no. 1500) dari jalan Syarik, dari Abul Hasna`, dari Al-Hakam, dari Hanasy, dari ‘Ali bin Abi Thalib z. Hadits ini dhaif karena beberapa sebab:

1. Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).

2. Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).

3. Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya.

Dan hadits ini dimasukkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2/844) sebagai salah satu kelemahan Hanasy.

Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ …

“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah ….” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah z)

Wallahul muwaffiq.







1 Juga Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam Fathur Rabbil Wadud (1/370).

Sumber: Majalah Asy Syari'ah

Download Audio Kitab Al-Mulakhkhosh Fii Syarhi Kitabit Tauhid-Ustadz
Abu Yahya Mu'adz

Download Audio Kitab Al-Mulakhkhosh Fii Syarhi Kitabit Tauhid-Ustadz Abu Yahya Mu'adz

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ.


Download Audio Kajian Islam Ilmiyah Bandung


18 Dzulqo’dah 1435H


Tempat:
MASJID AGUNG KOTA CIMAHI
(Samping Alun-Alun Kota Cimahi)


Kitab Al-Mulakhkhosh Fii Syarhi Kitabit Tauhid
Karya Syaikh Sholeh Al-Fauzan Hafizhohulloh
Ustadz Abu Yahya Mu’adz Hafizhohulloh (dari Pendem, Sragen)


1. Kitab Al-Mulakhkhosh Fii Syarhi Kitabit Tauhid (Ustadz Abu Yahya Mu'adz) 18 Dzulqa'dah 1435H


:: Semoga Bermanfaat ::
بارك الله فيكم

Bagaimana Menyikapi Ustadz Yang Salah

Bagaimana Menyikapi Ustadz Yang Salah

BAGAIMANA MENYIKAPI USTADZ YANG SALAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Apa yang wajib dilakukan terhadap salah seorang ustadz yang salah, khususnya pada materi-materi agama, dalam keadaan saya mengetahui dengan yakin jawaban yang benar?

Jawaban: Ini adalah pertanyaan yang penting, karena kita menjumpai sebagian asatidzah tidak terima ada seorang pun menyalahkannya betapapun besarnya kesalahan yang dia lakukan. Sikap seperti ini tidak benar, karena semua manusia tempatnya salah. Jadi jika seseorang salah dan ada yang mengingatkannya maka hal ini termasuk nikmat Allah terhadapnya, agar orang lain tidak tertipu dengan kesalahannya.


Hanya saja sepantasnya bagi seorang murid atau seorang penuntut ilmu untuk memiliki sikap yang cerdas dan mulia, jadi dia jangan langsung berdiri di hadapan murid-murid yang lain ketika membantah gurunya, karena cara semacam ini tidak beradab.

Jadi hendaknya dia melakukannya setelah pelajaran selesai. Kalau gurunya menerima kritikannya (mengakui kesalahannya –pent) maka gurunya tersebut wajib untuk menjelaskan ulang kesalahannya tersebut pada pelajaran berikutnya. Tetapi kalau gurunya tersebut tidak menerima kritikannya, maka wajib atas sang murid untuk berdiri di hadapan murid-murid yang lain pada pelajaran berikutnya untuk mengatakan: “Ya Ustadz, Anda mengatakan demikian demikian, padahal ini adalah ucapan yang tidak benar.”

Sumber artikel: Kitaabul Ilmi, tanya jawab no. 53

Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 24 Dzulqa’dah 1435 H
Kitab Huququl Aulaad-Ustadz Khotib

Kitab Huququl Aulaad-Ustadz Khotib


Kajian Rutin SABTU SORE
25 Dzulqo’dah 1435H/ 20 Sept 2014
Ba’da Ashar s.d. selesai

Kitab HUQUQUL AULAAD (Hak-Hak Anak) (Karya Asy-Syaikh Abdulloh Al Bukhori hafizhohulloh)

bersama: Ustadz Abu Najm Khotib Hafizhohulloh (Pengasuh Ma'had As Salafy An-Nur)

Tempat:
MASJID AGUNG KOTA CIMAHI (Samping Alun-Alun Kota Cimahi)

CP: 089657273634 | 085221101378 | 085721054784

Gratis, TERBUKA UNTUK UMUM MUSLIM & MUSLIMAH

streaming LIVE di:
www.salafybandung.com | IP address : 103.28.148.18 atau i.klikhost.com:8088

بارك الله فيكم
Kitab At-Tauhid-Ustadz Abu Yahya Mu'adz

Kitab At-Tauhid-Ustadz Abu Yahya Mu'adz

Kajian Rutin SABTU SORE
18 Dzulqo'dah 1435H/ 13 Sept 2014
Ba'da Ashar s.d. selesai

Kitab Al-Mulakhkhosh Fii Syarhi Kitabit Tauhid
Karya Syaikh Sholeh Al-Fauzan Hafizhohulloh

bersama: Ustadz Abu Yahya Mu'adz Hafizhohulloh (dari Pendem, Sragen)

Tempat:
MASJID AGUNG KOTA CIMAHI (Samping Alun-Alun Kota Cimahi)

CP: 089657273634 | 085221101378 | 085721054784

Gratis, TERBUKA UNTUK UMUM MUSLIM & MUSLIMAH

streaming LIVE di:
www.salafybandung.com | IP address : 103.28.148.18 atau i.klikhost.com:8088

بارك الله فيكم
Download Audio Kaidah-Kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah

Download Audio Kaidah-Kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah


بِسمِ اللَّهِ

Download Audio Muhadhoroh Islam Ilmiyah Bandung
Tempat: Masjid Ma’had Adhwa ‘Us Salaf Cileunyi
Pelajaran: ” Kaidah-Kaidah Untuk Menghindari Hizbiyah’”
Pengkaji: Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafizhohulloh



24 Tanya Jawab + 1 Thausiah Untuk Ikhwah Bandung:1. Apakah seorang yang lambat dalam menyampaikan fatwa ulama termasuk hizbiyah gaya baru ?
Tanya Jawab 1

2. Apakah dengan ditahdzirnya Dzulqarnain oleh ulama Khibar dapat dikatakan beliau sebagai ahlu bid'ah ?
Tanya Jawab 2

3. Bagai mana Syaikh Muhammad Al Imam saat ini, apakah jika ada Da'i yang membelanya patut untuk diwaspadai ?
Seputar Iqomah

Seputar Iqomah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)

Hukum Iqamah

Dalam pembahasan adzan terdahulu, kita telah mengetahui bahwa hukum iqamah adalah fardhu kifayah dalam shalat berjamaah. Adapun untuk shalat sendiri, hukumnya mustahab (sunnah), dengan dalil sabda Rasulullah n:

إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضٍ قِيٍّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفاَهُ

“Bila seseorang berada di tanah yang tandus tidak berpenghuni lalu datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan bila tidak beroleh air ia bertayammum. Maka jika ia menyerukan iqamah untuk shalat akan shalat bersamanya dua malaikat yang menyertainya. Jika ia adzan dan iqamah maka akan shalat di belakangnya tentara-tentara Allah yang tidak dapat terlihat dua ujungnya.” (HR. Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah, sanadnya shahih di atas syarat As-Sittah, kata Al-Imam Al-Albani t, Ats-Tsamarul Mustathab, 1/45)



Lafadz Iqamah

Ada dua macam iqamah: