Muhadhoroh Islam Ilmiyah "KITAB RIYADHUS SHOLIHIN" Al-Ustadz Abu YasirWildan

Muhadhoroh Islam Ilmiyah "KITAB RIYADHUS SHOLIHIN" Al-Ustadz Abu YasirWildan

بسم الله الرحمن الرحيم ِ

Dengan mengharap ridho dan taufiq Alloh Subhanahu wa ta'ala, in syaa Alloh hadir kembali hari ini:

Muhadhoroh Islam Ilmiyah di Bandung


"KITAB RIYADHUS SHOLIHIN"

Al-Ustadz Abu Yasir Wildan Hafizhohulloh
* Da'i Salafy dari Cileunyi, Bandung

Sabtu, 8 Muharrom 1436 hijriyah/ 1 Nov 14
15:00 s/d 17:00 WIB

Masjid Agung Cimahi Bandung
(Samping Alun-Alun Kota Cimahi)

Informasi:
085721054784
085221101378
089657273634

TERBUKA UNTUK UMUM MUSLIM & MUSLIMAH

Penyelenggara:
Majelis Ta'lim As Salafy Cimahi

Disiarkan Langsung melalui Streaming:

Radio Salafy Bandung
Web: http://salafybandung.com/
Url: http://i.klikhost.com:8088/

Radio Rasyid
Web: http://radiorasyid.com/
Url: http://radiorasyid.onlivestreaming.net:8989/

Radio Miratsul Anbiya
Web: http://miratsul-anbiya.net/
Url: http://rda.onlivestreaming.net:8787/

Atau Download & Install Aplikasi RII(Radio Islam Indonesia) untuk android di:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.radioislam

Sebarkan kepada ikhwah yang lain ya
Semoga bermanfaat

Baarokallohufiikum
Menjauhi Perdebatan Dalam Hal Agama

Menjauhi Perdebatan Dalam Hal Agama


Ma’n bin Isa berkata, “Suatu hari, (al-Imam) Malik bin Anas rahimahullah keluar dari masjid dalam keadaan  bersandar pada tanganku. Ada seorang lelaki -yang dipanggil Abul Huriyah, yang tertuduh berpemahaman Murji’ah- menyusulnya dan mengatakan, “Wahai hamba Allah, dengarkanlah sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu. Aku akan beradu hujah denganmu dan memberitahumu tentang pemikiranku.”

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya, “Bagaimana jika engkau mengalahkanku (dalam perdebatan)?”

Dia menjawab, “Kalau aku mengalahkanmu, engkau harus mengikuti pemikiranku.”

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya lagi, “Kalau ada orang lain yang kemudian mendebat lantas mengalahkan kita?”

Dia menjawab, “Kita ikuti dia.”

Al-Imam Malik rahimahullah menukas,

يَا عَبْدَ اللهِ، بَعَثَ اللهُ مُحَمَّدًا بِدِيْنٍ وَاحِدٍ، وَأَرَاكَ تَنْتَقِلُ مِنْ دِيْنٍ إِلَى دِينٍ

Wahai hamba Allah, Allah Subhanahu wata’ala mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan satu agama. Namun, aku lihat engkau berpindah dari satu agama ke agama yang lain.” (asy-Syari’ah, al-Ajurri, hlm. 62)

(Catatan kaki al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahij al-Jadidah hlm. 78, cet. Maktabah al-Huda al-Muhammadi)

Akhlak Suami dalam Rumah Tangga

Akhlak Suami dalam Rumah Tangga


Para pembaca rahimakumullah.

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Karena kesempurnaan iman seseorang akan menjadikan pelakunya berhias dengan akhlak yang mulia dan berbuat baik kepada segenap manusia.

Sebagaimana sabda Rasululloh:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud no. 4682 dan at-Tirmidzi no. 1162, lihat ash-Shahihah al-Albani no. 284)

Rasulullah juga bersabda:

وَخَالِقالنَّاسَبِخُلُقٍحَسَنٍ

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. at-Tirmidzi no. 1987, lihat Shahihul Jami’ no. 97)

Dalamhadits tersebut terdapat anjuran bagi setiap muslim untuk berhias dengan akhlak yang baik di dalam bergaul dengan sesama.

Bagaimanakah wujud pengamalan akhlak yang baik dalam pergaulan?

Wujud pengamalan akhlak yang baik di dalam pergaulan adalah dengan menahan diri untuk tidak menyakiti  saudaranya baik melalui lisan seperti mencela, mengejek, mengumpat dan melaknat ataupun melalui tangan seperti memukul, melukai dan lain sebagainya. Kemudian bermurah hati atau suka memberi kepada orang lain serta sabar terhadap gangguan mereka.

Rasululloh adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Anas bin Malik mengatakan:

كَانَرَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَأَحْسَنَالنَّاسِخُلُقًا

“Rasululloh adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim no. 2310)

Allah pun memuji keagungan akhlak Rasululloh, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (al-Qolam: 4)

Rasululloh adalah orang yang paling baik pergaulannya kepada setiap orang, terlebih lagi kepada istri-istri beliau.Bahkan beliau menekankan dalam sabdanya:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada istrinya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada istriku.”(HR. at-Tirmidzi no. 3895 dan Ibnu Majah no. 1977, ash-Shahihah al-Albani no. 285)

Maka sebaik-baik mukmin adalah orang yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.Namun kenyataan yang terjadi dalam masyarakat sungguh menyedihkan dan bertentangan dengan sabda Rasulullah tersebut seperti merebaknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh sebagian suami. Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahnya akhlak mereka  dalambergaul dengan para istri.

Yang lebih mengherankan pada diri sebagian suami, sangat buruk dalam bergaul dengan istrinya namun begitu baik di dalam bergaul dengan orang lain. Terhadap istri sendiri ucapannya keras, kasar, bermuka masam, berdusta, tidak memberi nafkah, tidak mau membantu pekerjaan rumah dan lain sebagainya.Namun kepada orang lain – masya Allah- ucapannya lembut, sopan, bermuka manis, suka memberi dan mudah dimintai tolong. Ini merupakan kesalahan yang sangat besar dan menyelisihi petunjuk Rasulullah.

Memang benar kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Namun ingat, istri merupakan orang pertama yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan dari suami sebelum orang lain. Karena istri merupakan orang terdekat suami yang selalu menemaninya di waktu siang maupun malam.Apabila suami tertimpa suatu musibah maka istri adalah orang pertama yang ikut merasakan penderitaannya.Dan apabila suami merasakan kegembiraan atau kesedihan maka istri adalah orang pertama pula yang merasakan kegembiraan dan kesedihan tersebut. Sehingga apabila suami memiliki kebaikan, maka berikanlah kebaikan tersebut kepada istri sebelum memberikan kepada orang lain. Hendaklah seorang suami menjadikan istrinya sebagai sebaik-baik teman dan sebaik-baik orang yang dicintai.

Bagaimanakah kehidupan rumah tangga Rasululloh sehari-hari?

Al-Aswad bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa kesibukan Rasululloh selama berada di rumah?”‘Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan rumah.” (HR. al-Bukhori no. 676)

Di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai pemimpin umat, Rasululloh masih sempat meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Sampai diceritakan bahwa beliau memerahkan susu untuk keluarganya, memperbaiki sandal, menjahit baju dan lain sebagainya. Subhanalloh, beliau tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak merasa gengsi untuk melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh para istri.Sementara sebagian suami di masa sekarang, mereka merasa gengsi untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak, mengurus anak dan lain sebagainya.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz mengatakan, “Wajib kepada para suami untuk mempergauli para istri dengan cara yang sebaik-baiknya. Karena Alloh Ta’ala berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) secara baik.Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisaa: 19)

Alloh Ta’ala juga berfirman:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut carayang baik, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. (QS. al-Baqarah: 228)

Rasululloh bersabda:

“Hendaklah kalian berwasiat kepada para wanita dengan kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851, lihat Adabuz Zifaf hlm. 270)

(Majmu’ Fatawa Ibn Baz jilid 21, hlm. 230)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “Wajib bagi setiap suami istri, satu dengan yang lainnya untuk bergaul dengan cara yang baik dengan pergaulan yang indah, menahan diri untuk saling menyakiti dan tidak menunda-nunda dalam menunaikan haknya masing-masing.” (Manhajus Salikin hlm. 130)

Rasululloh adalah figur suami yang adil di dalam memberikan bagian kepada istri-istrinya. Satu contoh dalam hal ini adalah apa yang diceritakan oleh ‘Aisyah bahwasanya dahulu Rasululloh apabila ingin mengadakan perjalanan, beliau mengadakan undian bagi istri-istrinya. Barangsiapa yang namanya keluar maka itulah yang ikut bersama beliau.Dan beliau membagi hari giliran diantara istri-istrinya kecuali Saudah bintu Zam’ah yang menyerahkan hari gilirannya kepada ‘Aisyah demi mengharap ridho Rasululloh. (HR. al-Bukhori no. 2593 dan 2688)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan, “Dan wajib bagi suami untuk bersikap adil diantara istri-istrinya dalam masalah pembagian hari giliran, pemberian nafkah, pemberian pakaian dan perkara-perkara yang mampu baginya untuk berbuat adil.” (Manhajus Salikin hlm. 131)

Rasululloh bersabda, “Barangsiapa yang memiliki 2 istri kemudian ia condong kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tubuhnya miring.”

(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan Nasa’i, lihat al-Irwa no. 2017)

Apabila seorang istri ingin melepaskan haknya (dan diberikan kepada istri lainnya) seperti hari giliran, nafkah dan pakaiannya dengan seizin suami, maka yang demikian ini dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Saudah. (Manhajus Salikin hlm. 131)



Romantisme Nabi Bersama ‘Aisyah

‘Aisyah berkata, “Suatu saat aku sedang minum dan ketika itu aku dalam keadaan haid.Kemudian aku tawarkan minuman tersebut kepada Rasululloh maka beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku.Aku pernah makan tulang dan ketika itu aku dalam keadaan haid.Kemudian aku tawarkan tulang tersebut kepada Rasululloh maka beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku.” (HR. Muslim no. 300)

‘Aisyah berkata, “Rasululloh pernah melaksanakan salat dalam keadaan duduk, beliau membaca surat dalam keadaan duduk, maka apabila tersisa bacaan sekitar 30 atau 40 ayat beliau berdiri dan menyelesaikan sisa ayat dalam keadaan berdiri, kemudian ruku dan sujud. Beliau melakukan hal yang sama pada rakaat kedua. Tatkala beliau telah selesai dari shalatnya, beliau melihatku: apabila aku tidak tidur maka beliau berbincang-bincang denganku dan apabila aku tidur maka beliau berbaring.” (HR. al-Bukhari no. 1119)

Suatu ketika ‘Aisyah bersama Rasululloh mengadakan perjalanan, dan saat itu ‘Aisyah kurus badannya.Rasululloh mengatakan kepada para sahabat, “Berjalanlah kalian terlebih dahulu.”Kemudian beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Kemarilah, aku mau berlomba denganmu.”‘Aisyah pun berlomba dengan Rasululloh dan dimenangkan oleh ‘Aisyah.Beberapa waktu kemudian aku keluar bersama beliau dalam suatu perjalanan.Rasululloh mengatakan kepada para sahabat, “Berjalanlah kalian terlebih dahulu.”Kemudian beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Kemarilah, aku mau berlomba denganmu.”Dan ketika itu ‘Aisyah dalam keadaan gemuk.’Aisyah berkata, “Bagaimana mungkin aku berlomba denganmu wahai Rasululloh sementara aku dalam keadaan demikian?”Beliau berkata, “Ayo berlombalah.”Maka ‘Aisyah berlomba dengan Rasululloh dan dimenangkan oleh Rasululloh.Beliau berkata, “Ini sebagai balasan dari perlombaan sebelumnya.” (HR. Ahmad no. 24119 dan 26277, lihat Irwaul Ghalil no. 1502)

‘Aisyah berkata, “Suatu hari aku tidur di hadapan Rasulullah (beliau dalam keadaan shalat) dan kedua kakiku menjulur ke arah kiblat.Tatkala beliau sujud, tangan beliau meraba kakiku.Maka akupun segera menarik kakiku.Kemudian tatkala beliau bangkit, akupun kembali menjulurkan kedua kakiku.” (HR. al-Bukhari no. 513)



Romantisme Nabi Bersama Shafiyyah

Shafiyyah berkata, “Suatu hari Rasulullah beri’tikaf kemudian aku mengunjunginya pada malam hari.Akupun berbincang-bincang dengannya.Tak berapa lama akupun bersiap untuk kembali ke rumah dan Rasululloh mengantarku pulang.” (HR. al-Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175)

Wallohu a’lam bish-shawab

Penulis: Abu ‘Abdirrahman Muhammad Rifqi

Sumber: Buletin Islam Al-Ilmu
AWAS!!! bid’ah munkarah ‘IDUL GHADIR buatan SYI’AH RAFIDHAH

AWAS!!! bid’ah munkarah ‘IDUL GHADIR buatan SYI’AH RAFIDHAH


Setiap 18 Dzulhijjah, kaum Syiah merayakan Idul Ghadir. Hari raya yang bagi Syi’ah lebih istimewa daripada Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan mereka namakan sebagai ‘Idul Akbar!!!!

Subhanallah….

Di Indonesia…kelompok SESAT ini terus memprogandakan dan menjajakan bid’ah-bid’ah dan kekufurannya ke tengah-tengah muslimin. Dengan mengatasnamakan kecintaan dan pembelaan terhadap Ahlul Bait!!!

Idul Ghadir, yang mereka katakan memperingati peristiwa Ghadir Khum. Hari tersebut diklaim oleh Syiah sebagai hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam mewasiatkan ‘Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah!!! Sungguh DUSTA mereka…

Berikut penjelasan al-’Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah tentang Idul Ghadir yang batil itu : Ada Bid’ah Munkarah, yang aku peringatkan saudara-saudaraku sekalian darinya, dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Yaitu bid’ah “Idul Ghadir”. Telah berdatangan kitab-kitab dari Iran mengajak merayakan Idul Ghadir.

‘Idul Ghadir tidak pernah diperingati/dirayakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula Abu Bakr, tidak pula ‘Umar, tidak pula ‘Utsman. Bahkan tidak pula diperingati oleh Ali bin Abi Thalib, tidak pula al-Hasan dan al-Husein, tidak pula oleh Zaid bin ‘Ali. Itu adalah BID’AH dan salah satu syi’ar syi’ah bid’ah. Kemudian kedustaan yang sangat nyata, yaitu mereka menamakannya “Idul Ghadir”, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada untuk kita kecuali dua ‘Id, yaitu ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.”

Maka WASPADALAH, WASPADALAH WAHAI KAUM MUSLIMIN, jangan kalian hadir dalam acara-acara bid’ah tersebut. Apa yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat kita tidak butuh terhadap bid’ah.”

[ I'lan an-Nakir 'ala ashhabi bid'ati 'Idil Ghadir, hal. 3-4 ]

unduh kitabnya di sini http://goo.gl/W42uNu

Sumber: Miratsul Anbiya'

Permasalahan Seputar Nifas

Permasalahan Seputar Nifas


Dalam kitab Sittiina Su`alan ‘an Ahkamil Haidh fish Shalat wash Shaum wal Hajj wal I’timar, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan seputar nifas dan lainnya.

Berikut sebagian nukilannya:

  1.   Apakah wajib bagi wanita nifas untuk puasa dan shalat apabila ia suci sebelum berlalu waktu 40 hari?

Beliau rahimahullah menjawab:

“Ya, wajib baginya shalat dan puasa. Ketika seorang wanita yang nifas telah suci sebelum 40 hari, wajib baginya melakukan ibadah puasa apabila bertepatan dengan Ramadhan sebagaimana wajib baginya shalat lima waktu. Dan boleh bagi suaminya untuk menggaulinya karena ia telah suci. Tidak ada yang mencegahnya dari puasa, dari kewajiban shalat, dan kebolehan jima’ (bersetubuh).”

  1. Apakah wanita yang nifas harus menunggu selama 40 hari, tidak boleh shalat dan puasa? Atau yang jadi patokan adalah berhentinya darah yang keluar dari kemaluan si wanita, yang dengan begitu bila darah telah berhenti berarti ia telah suci dan boleh mengerjakan shalat? Berapa lama waktu minimal nifasnya seorang wanita?