Kajian Islam Ilmiyah Masjid Agung Cimahi

Kajian Islam Ilmiyah Masjid Agung Cimahi


 بسم الله الرحمن الرحيم

Download Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqiim:Download Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqiim

dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim:2699)

Dengan mengharap ridho dan taufiq Alloh Subhanahu wa ta’ala, in syaa Alloh hadir kembali:

Kajian Islam Ilmiyah di Bandung 

Pengkaji:
Al-Ustadz Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary
Hafizhohulloh* Pimpinan Ma’had Daarul Atsar Al Islamy Tasikmalaya
* Penulis Majalah Asy Syari’ah

Sabtu, 6 Rajab 1436 hijriyah/ 25 Apr 15

Materi:


“Mendulang Faidah Ilmu dari Kitab Iqtidha Shirathal Mustaqim”(Bab Perintah Untuk Menyelisihi Orang-Orang Kafir dan Larangan Meniru Mereka)


Waktu:
Ba’da Ashr s/d 17:00 WIB

Tempat:
Masjid Agung Cimahi Bandung
(Samping Alun-Alun Kota Cimahi)

Informasi:
085721054784
085221101378

Penyelenggara:
Majelis Ta’lim As Salafy Cimahi

TERBUKA UNTUK UMUM MUSLIM & MUSLIMAH

Disiarkan Live:
Radio Salafy Bandung Streaming
Web: http://salafybandung.com/
Url: http://centauri.shoutca.st:8827/

Atau Download & Install Aplikasi RII(Radio Islam Indonesia) untuk android di:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.radioislam!

Informasi ini disebarluaskan melalui:
 http://salafybandung.com/

Mari kita ajak serta Keluarga, Sahabat dan Tetangga ..
Budaya Konsumerisme

Budaya Konsumerisme

Oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhohulloh

Konsumerisme merupakan fenomena yang telah lama populer di Barat. Dalam sistem kapitalisme Barat, konsumsi tanpa kontrol produk dan tidak menggunakan barang yang baru dibeli merupakan tindakan wajar.

Menurut sejumlah cendekiawan, perilaku konsumtif saat ini tidak terlepas dari perkembangan budaya kapitalisme yang menempatkan konsumsi sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat. (Republika. co.id)

Besarnya pengaruh budaya konsumerisme ini telah lama melanda dunia. Kehidupan masyarakat pada umumnya diwarnai dan dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendidik, karena justru mengajarkan keborosan, kerakusan, dan kesia-siaan dalam segala sesuatu yang dikonsumsi untuk kepuasan sendiri.

Lebih-lebih pada momen-momen khusus yang terjadi di sepanjang tahun, yang mendorong setiap individu untuk bertindak konsumtif. Akibatnya, timbul dampak negatif pada sikap, perilaku, gaya hidup, dan cara berpikir tentang hidup, baik secara individu maupun sosial.

Konsumerisme Bukan Gaya Hidup

Kemewahan, kebanggaan, dan ambisilah yang membuat orang sulit menahan keinginan membelanjakan uangnya, lebih-lebih pada momen keagamaan, seperti bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Bagi kaum muslimin, bulan ini adalah bulan yang penuh berkah. Bulan ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah, melatih diri agar hidup lebih sederhana, menahan hawa nafsu, dan ikut merasakan kesulitan serta kekurangan yang dirasakan oleh golongan ekonomi lemah. (Majalis Ramadhan, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin v)

Akan tetapi, di Indonesia yang merupakan negara muslim, budaya konsumtif justru dimulai menjelang Ramadhan. Budaya ini semakin menjadi-jadi menjelang akhir Ramadhan, mendekati Idul Fitri. Sebagian besar masyarakat, termasuk kaum muslimah, berlomba-lomba membeli barang-barang baru untuk dipakai pada hari raya. Sepertinya, esensi puasa pada bulan yang agung ini nyaris terlupakan dan terkalahkan oleh popularitas budaya konsumtif ini.

Ditambah lagi, tidak sedikit yang justru kebablasan, cenderung berlebihan dan menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang sebetulnya di luar kebutuhan. Padahal, pemborosan dan sikap berlebih-lebihan adalah perilaku yang bertolak belakang dengan Islam. Sebab, semua itu bukan gaya hidup yang diajarkan oleh Islam.

Memang, Islam telah memberikan perhatian besar terhadap kebutuhan kaum perempuan, khususnya perhiasan, kecantikan, dan pakaian, melebihi perhatiannya terhadap kebutuhan kaum lelaki. Sebab, bagi perempuan, perhiasan dan kecantikan adalah sesuatu yang sangat penting. Perempuan diciptakan oleh-Nya dengan naluri senang menampakkan perhiasan dan kecantikan.

Maka dari itu, syariat membolehkan mereka mengenakan pakaian sutra dan memakai perhiasan emas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي، وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan pakaian sutra dan perhiasan emas bagi kaum lelaki dari umatku, tetapi dihalalkan bagi kaum perempuannya. (HR. at-Tirmidzi)

Boleh jadi, dengan alasan mempercantik diri demi menyenangkan suami, banyak muslimah yang justru berlebihan ketika membelanjakan hartanya.

Memenuhi kebutuhan untuk melangsungkan kehidupan dan menjalankan ibadah adalah hal yang diperintahkan. Akan tetapi, menghambur-hamburkan harta demi memenuhi sesuatu di luar kebutuhan adalah hal tercela, dan inilah yang disebut perilaku tabdzir dan israf.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

۞يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ٣١

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus setiap (kalian memasuki) masjid, dan makan sertaminumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31)

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

“Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, tetapi di antara keduanya secara wajar.” (al-Furqan: 67)

وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا ٢٦ إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا ٢٧

“...dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya. (al-Isra: 26—27)

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari hafizhohulloh

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.”

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu  suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani, Al-Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat pada kitab Shahih-nya (no.71, 3116, 7312) dan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 1038)

Kebaikan yang hakiki
Banyak orang menyangka bahwa harta yang melimpah, pangkat dan jabatan serta status sosial yang dimiliki merupakan tanda kecintaan Allah kepada seseorang dan menunjukkan Allah menginginkan kebaikan bagi pemiliknya. Tak jarang hal ini membuat pemilik kenikmatan tersebut tertipu sehingga ia lupa diri, berlaku sombong di muka bumi, melupakan Allah dan enggan untuk bersyukur.

Demikian pula orang-orang di sekitarnya, mereka ikut tertipu dengan melihat orang yang bergelimang kenikmatan tersebut sehingga mereka pun iri padanya, memimpikan dan mengangan-angankan agar mendapatkan kenikmatan yang sama.

Mengapa mereka tidak mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah Qarun, seorang yang kaya raya yang hidup di zaman Nabi Musa ‘alaihisallam  dan bagaimana kisah orang-orang yang tertipu dengan kenikmatan yang diperolehnya:

“Sesungguhnya Qarun itu termasuk kaumnya Musa, lalu ia berbuat dzalim dan sombong terhadap kaumnya (karena kekayaan yang dimilikinya –pen). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya  perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya terasa berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya  Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” Carilah (kebaikan) negeri akhirat dalam apa (harta) yang Allah berikan kepadamu dan jangan lupakan bagianmu dari dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata: “Aku diberikan harta ini karena pengetahuan yang kumiliki.” Tidakkah ia mengetahui sesungguhnya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya, orang yang lebih kuat darinya dan lebih banyak hartanya, dan orang-orang yang berdosa tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Qarun keluar di hadapan kaumnya dalam kemegahan (memamerkan kekayaannya). Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Duhai, kiranya kami memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun, sungguh ia memiliki keberuntungan yang besar.” Berkata orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Celaka kalian (jangan mengucapkan perkataan yang keliru seperti itu), pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal shalih dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Bila Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.”  (Al-Qashash: 76-82)

Ternyata kebaikan yang sebenarnya bukan pada kenikmatan yang disebutkan di atas. Namun kebaikan yang hakiki adalah kepahaman seseorang terhadap agamanya, kemudian ia beramal dengan ilmunya. Barangsiapa yang faqih dalam agama maka ini merupakan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  di atas.

Manusia itu seperti bejana-bejana, di antara mereka ada yang Allah Subhanahu wata’ala ketahui kebaikan di hatinya maka Allah berikan taufik kepadanya, dan di antara mereka ada yang Allah ketahui kejelekan di hatinya maka Allah menghinakan dan merendahkannya. Orang yang Allah ketahui kebaikan di hatinya berarti Allah menginginkan kebaikan untuknya, dan bila Allah menghendaki  kebaikan baginya, Allah faqihkan dia dalam agama-Nya dan Allah berikan padanya ilmu tentang syariat-Nya yang tidak diberikan kepada seorang pun dari manusia. Hal ini menunjukkan sepantasnya manusia itu bersemangat dengan semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk memahami/ mempelajari agama Allah, dikarenakan Allah Subhanahu wata’ala apabila menghendaki terhadap sesuatu, Allah akan mempersiapkan sebab-sebab untuk mendapatkannya. Dan di antara sebab seorang itu faqih dalam agama adalah dengan mempelajarinya dan bersungguh-sungguh untuk mencapai martabat yang mulia ini.

Kefaqihan dalam agama tidak sebatas hanya kepada pengilmuan saja  tapi juga dibarengi dengan pengamalan. Karena itu bila seseorang mengetahui sesuatu dari syariat Allah akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka dia bukanlah orang yang faqih, sampaipun seandainya ia menghapal kitab yang paling besar dalam ilmu fiqih (dan kitab-kitab lain dari cabang ilmu yang lain –pen) dan memahaminya akan tetapi ia tidak mengamalkannya maka orang seperti ini tidaklah dinamakan faqih tapi dia hanya disebut qari (pembaca). Dengan demikian orang yang faqih adalah orang yang beramal dengan apa yang diilmuinya. Ia berilmu terlebih dahulu kemudian diikutkannya dengan amalannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/497-498)

Sulaiman bin Khalaf Al-Baji rahimahullah berkata : “Pernyataan fiqh fid din menyatakan bahwa Allah menghendaki kebaikan pada hamba-hamba-Nya sehingga siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya Allah faqihkan dia dalam agamanya. Adapun al-khair (kebaikan) yang disebutkan di dalam hadits (maknanya) adalah masuk al-jannah dan selamat dari api neraka.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam al-jannah maka sungguh ia beruntung.” (Ali ‘Imran: 185) (Al-Muntaqa Syarhul Muwaththa Malik, 7/209)

Dengan demikian orang yang tidak tafaqquh fid din yakni tidak mempelajari agama Islam (kaidah-kaidahnya) dan cabang-cabang ilmu yang berhubungan dengannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan yang diinginkan. Orang yang tidak mengetahui perkara-perkara agamanya, dia bukanlah seorang yang faqih (orang yang paham) dan bukan pula orang yang mencari pemahaman. Maka tepat sekali bila dikatakan kepadanya (bahwa dia adalah) orang yang tidak diinginkan kebaikan baginya (oleh Allah). Demikian pula di sini ada penerangan jelasnya keutamaan ahlul ilmi di atas seluruh manusia dan keutamaan tafaqquh fid din (belajar/ memahami agama) di atas seluruh ilmu (Fathul Bari, 1/207). Karena dengan ilmu tersebut akan menuntun seseorang kepada taqwallah (bertakwa kepada Allah).” (Syarah Shahih Muslim, 7/128)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Fiqh fid din (Fiqih dalam agama) tidak sebatas fiqih hukum-hukum amaliyah yang dikhususkan oleh ahlul ilmi dengan istilah ilmu fiqih. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah ilmu tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama, keimanan) dan apa yang berkaitan dengan syariat Allah Subhanahu wata’ala. Seandainya tidak ada nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali dengan hadits ini saja, niscaya sudah mencukupi dan sempurna dalam memberi anjuran untuk menuntut ilmu syariat dan memahaminya.”  (Kitabul Ilmi, hal. 15-16)

Dan lihatlah kembali kisah Qarun di atas, ternyata yang memahami hakikat kebaikan adalah orang-orang yang dianugerahi ilmu. Mereka tahu bahwa Qarun telah tertipu dengan kenikmatan yang diperolehnya sehingga memperingatkan kepada manusia yang ingin seperti Qarun.

Ilmu yang mulia adalah ilmu syar’i

Berkata seorang penyair:
Tidaklah dinilai ilmu kecuali apa yang ada dalam Kitabullah dan Atsar (Sunnah)
Sedangkan yang  selainnya  tidak ada wujudnya dan pengaruhnya
Kecuali hawa nafsu dan pertikaian yang diada-adakan kedustaan padanya
Maka jangan sekali-kali menipumu kebatilan pemiliknya
(Syadzaratudz Dzahab, 7/103 dinukil dari  Waratsatul Anbiya, hal. 12)

Ilmu yang disebutkan tentang keutamaan/kemuliaannya dalam nash-nash, serta pahala yang akan diperoleh karena mempelajari dan mengamalkannya, begitu pula diangkatnya derajat pemilik ilmu tersebut dan tergolongnya pemilik ilmu tersebut sebagai pewaris para nabi adalah ilmu syar’i, baik ilmu tersebut yang bersangkutan dengan keyakinan (keimanan, aqidah, dan manhaj yang shahih) ataupun amalan (ibadah, akhlaq, dan muamalah).

Inilah ilmu yang karenanya seseorang itu dipuji bila dapat mencapainya, mempelajari dan  mengajarkannya. Sehingga bukanlah yang dimaksud di sini ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dunia seperti ilmu berhitung dan teknik atau yang serupa dengannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 3/491)

Ilmu syar‘i seperti inilah yang dikatakan lebih utama mempelajarinya daripada mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, baik berupa puasa, shalat dan yang lainnya. Dikatakan demikian karena kemanfaatan ilmu itu mengenai pemiliknya dan manusia yang lain. Sementara ibadah sunns`ah yang dilakukan badan, kemanfaatannya terbatas hanya untuk pelakunya. Juga karena ilmu tersebut akan membenarkan (meluruskan) ibadah seseorang, sehingga yang namanya ibadah butuh terhadap ilmu dan bergantung dengannya. Selain daripada itu, ilmu akan tetap tertinggal atsarnya (sisa/ pengaruhnya) sepeninggal pemiliknya, sementara ibadah sunnah akan terputus dengan meninggalnya pelakunya. Sehingga bisa dikatakan, selama ilmu itu   ada syariat ini akan tetap hidup dan terjaga (tetap berkibar) bendera-bendera agama ini. (Tadzkiratus Sami‘ wal Muta‘allim, hal. 23)

Demikianlah kemuliaan ilmu syar‘i yang begitu dijunjung keberadaannya di dalam agama Allah Subhanahu wata’ala ini. Namun apabila kita menengok keberadaaan kita pada hari ini dengan kebanggaan terhadap ilmu-ilmu dunia maka betapa naif dan jeleknya, di mana ilmu syar‘i diremehkan dan direndahkan dihadapan kita. Sehingga bila ada seseorang yang  ditanya pada hari ini tentang pendidikannya, di mana dia sekolah? Di mana dia belajar? Dan kebetulan dia adalah seorang thalibul ilmi syar‘i (penuntut ilmu agama) di satu pesantren ataupun sekolah agama maka dengan malu/ minder ia menjawab: “Saya seorang santri,” atau “Saya di jurusan syariah.” Sebaliknya, bila ternyata seseorang itu belajar di sekolah umum dan ditanya dengan pertanyaan yang sama maka dengan bangga ia mengatakan, “Saya di SMU favorit” atau “Saya kuliah di fakultas kedokteran.” Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahil musytaka.

Berbeda dengan zaman Salafunas Shalih yang (kehidupan mereka) diukir dan dicatat dengan tinta emas di lembaran buku-buku sejarah, yang mana mereka itu dibanggakan keberadaannya dengan ilmu syar‘i dari berbagai macam cabang yang membuat kita malu mengukur keberadaan kita apabila dibandingkan dan diukur dengan keberadaan mereka rahimahumullah.

Apa yang telah dipaparkan di sini menggambarkan bagaimana keadaan kita dan zaman kita sehingga perlu bagi kita untuk mengoreksi diri dan berupaya kembali menuntut ilmu syar‘i yang sungguh ilmu ini sangat bermanfaat sekali bagi diri kita, di mana pahalanya akan terus mengalir kepada pemiliknya sekalipun jasadnya telah dikubur dalam tanah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

“Apabila meninggal anak Adam, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Kemuliaan ilmu dan ahlinya
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Dia, demikian pula para malaikat-Nya dan orang-orang yang berilmu (pun bersaksi) dalam keadaan menegakkan keadilan, tidak ada ilah kecuali Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Memiliki hikmah.” (Ali Imran: 18)

Ayat di atas mengemukakan tentang kemuliaan ilmu dan keutamaannya serta kemuliaan dan keutamaan ahlul ilmi dibanding selain mereka dari kalangan manusia. Karena bila ada seseorang yang selain mereka menyamai kedudukan mereka niscaya Allah akan menggandengkan persaksian orang itu dengan persaksian-Nya sebagaimana Allah mengandengkan persaksian ahlul ilmi dengan persaksian-Nya. (Miftah Daris Sa’adah, 1/50)

Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wata’ala memulai penyebutan persaksian dirinya, yang kedua Dia sebutkan malaikat-Nya dan yang ketiga Dia sebutkan persaksian ahlul ilmi, sehingga cukuplah dengan ini kemuliaan, keutamaan, kehormatan dan keagungan bagi mereka.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 17)

Demikianlah kemuliaan yang Allah I  berikan terhadap para pemilik ilmu sehingga tidak sama kedudukannya dengan mereka yang tidak memiliki ilmu.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Katakanlah (Ya Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (jahil)?” (Az-Zumar: 9)

Sebaliknya orang yang bodoh disebutkan oleh Allah I sebagai seorang yang buta yang tidak bisa melihat kebenaran dan kebaikan sebagaimana firman-Nya:

“Apakah orang yang mengetahui bahwa al-haq (kebenaran) yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sama dengan orang yang buta (tidak mengetahui al-haq)?” (Ar-Ra’d: 19)

Hal ini menunjukkan bahwa yang sebenarnya memiliki penglihatan dan pandangan yang hakiki hanyalah orang-orang yang berilmu. Adapun selain mereka hakikatnya adalah orang yang buta yang berjalan di muka bumi tanpa dapat melihat.

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Tidaklah sama antara orang yang mengetahui/mengilmui bahwa apa yang diturunkan oleh Allah adalah kebenaran, petunjuk dan jalan kebahagiaan, dengan orang-orang yang buta tentang jalan ini dan ilmu ini. Perbedaan besar antara dua kelompok ini, yaitu seperti perbedaan antara orang yang mengetahui al-haq dan mengambil sinar cahayanya, lalu berjalan di atas petunjuknya sampai dia berjumpa dengan Rabb-nya, serta beruntung memperoleh kemuliaan dan kebahagiaannya, dengan orang yang buta tentang jalan tersebut, sehingga ia pun mengikuti hawa nafsunya dan berjalan di jalannya syaitan dan hawa nafsu.” (Al-Ilmu wa Akhlaqu Ahlihi, hal. 5)

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wata’ala menolak disamakannya ahlul ilmi dengan selain mereka, sama halnya sebagaimana Allah menolak persamaan penghuni surga dengan penghuni neraka:

“Tidak sama antara penghuni an-nar dengan penghuni al-jannah.” (Al-Hasyr: 20) (Miftah Daris Sa‘adah, 1/51)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Pengangkatan derajat di sini mencakup pengangkatan secara maknawi di dunia yaitu dengan tingginya kedudukan mereka dan baiknya reputasi mereka. Dan secara hissiyah (indrawi) di akhirat dengan tingginya kedudukan di surga.” (Fathul Bari, 1/177)

Cukuplah kemuliaan bagi ilmu dengan Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi pilihan-Nya untuk berdoa meminta tambahan ilmu, bukan meminta tambahan harta atau yang selainnya dari perkara dunia:

“Katakanlah (ya Muhammad): Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu bagiku.” (Thaha: 114)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

“Siapa yang menempuh sebuah jalan dalam rangka untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no.2699)

Zir bin Hubaisy rahimahullah berkata: Aku mendatangi Shafwan bin ‘Assal  radhiyallahu 'anhu  untuk bertanya kepadanya tentang mengusap khuf. Maka ia pun bertanya kepadaku: “Apa yang mengantarmu untuk datang ke sini, wahai Zir?” Aku menjawab: “(Aku datang) dalam rangka mencari ilmu.” Shafwan pun berkata: “Maukah aku beritakan kabar gembira kepadamu?” Kemudian Shafwan membawakan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dicarinya.” (HR. Ahmad 4/239, At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/14, 15)

Masih banyak lagi nash yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan ucapan ahlul ilmi dalam masalah ini1 yang kalau kami cantumkan akan membutuhkan berlembar-lembar kertas, sehingga cukuplah apa yang telah kami sebutkan di atas dari nash yang ada. Semoga menjadi dorongan bagi kami pribadi maupun pembaca untuk meraih kebaikan yang hakiki tersebut. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan memberi taufik kepada kita untuk senantiasa beramal dengan ilmu. Amin!

Wallahu ta‘ala a‘lam bishawab.



1 Lihat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu dalam kitab Al-Ilmu Fadhuhu wa Syarafuhu yang diringkas kitab ini dan disusun dari kitab Miftah Daris Sa‘adah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhohulloh

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami”(Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut,Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema“Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI. Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah

- pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H.Nasaruddin Umar, MA;

- Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi;

- Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin;

- Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA;

- pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri.

Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII. Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri.

Syiah di Indonesia

Syiah di Indonesia

Oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhohulloh

Bermula dari kepulangan Khomeini ke Iran pada 1 Februari 1978 dari pengasingannya di Paris, Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi kepanjangan tangan Shah Iran. Khomeini seakan-akan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Ia seolah menjadi tokoh anti-Amerika dan Barat.

Karena itu, banyak kalangan muda di dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka. Kemudian dengan penuh semangat mereka mengidentikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam” Iran ala Khomeini. Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke dunia Islam.

Sejatinya, revolusi “Islam” Iran itu tidak lain hanyalah revolusi kaum Syiah yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Islam sehingga banyak muncul kekuatan politik baru yang bercorak ideologi Syiah.

Sejarah Syiah di Indonesia memiliki alur yang sangat abu-abu. Banyak sekali klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh kaum Syiah sendiri. Sampai hari ini, ada beberapa pihak yang menyimpulkan bahwa Syiah masuk ke Indonesia pada abad ke-12 Masehi, dibawa oleh bangsa Persia. Akan tetapi, hal ini kemudian dianulir oleh Syiah.

Salah seorang tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat, ketika ditanya tentang kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia, menjawab, “Tidak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tidak menunjukkan dirinya Syiah, melainkan bertaqiyyah (berpura-pura) menjadi pengikut mazhab Syafi’i.” (www. tempo.co)

Demikianlah klaim Jalaluddin Rakhmat. Tentu, ini hanyalah sebuah klaim yang tidak bisa kita terima begitu saja. Sebab, orang-orang Hadramaut lebih dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan berpemahaman sufi.

Sebenarnya, pada 1976 di Indonesia telah berdiri sebuah yayasan yang menjadi corong Syiah, yaitu Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji akidah Syiah secara mendalam. Lulusan pesantren ini pun banyak memotori dakwah Syiah di beberapa tempat di Indonesia dengan “visi” terselubung.

Sementara itu, 1979 adalah tahun terjadinya revolusi Iran. Perlu dicatat bahwa sebelum itu, beberapa orang Indonesia sudah ada yang belajar di Qum, Iran. Tempat ini merupakan wadah atau sebagai madrasah Syiah terbesar ke-4 di dunia, setelah Najaf dan Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri.

Ditinjau dari perjalanan sejarah, komunitas Syiah di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga generasi, yaitu:

1. Generasi utama.

Sebelum meletus revolusi Iran pada 1979, Syiah sudah di Indonesia, baik Imamiyah, Zaidiyah, maupun Ismailiyah. Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga yang sangat terbatas. Karena itu, mereka bersikap sangat ekslusif, tidak atau belum punya semangat menyebarkan ajarannya kepada orang lain.

2. Generasi kedua.

Generasi ini didominasi oleh kalangan intelektual, kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Dari segi struktur sosial, generasi ini berasal dari kelompok menengah ke atas, mayoritasnya adalah mahasiswa dan akademisi perguruan tinggi. Sebagian referensi menyebutkan bahwa dakwah yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada rentang tahun 1970—1980-an. Mereka tertarik dengan pemikiran-pemikiran Syiah. Bersamaan dengan itu mahasiswa pun tertarik pada pemikiran Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.

3. Generasi ketiga.

Kelompok ini—terutama lulusan Qum di Iran—mulai mempelajari fikih Syiah, bukan lagi sebagai pemikiran. Mereka cenderung berkonflik dengan kelompok lain, bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajarannya dan cenderung memosisikan diri sebagai representasi orisinal tentang paham Syiah dan atau sebagai pemimpin Syiah di Indonesia.



Perkembangan Syiah di Indonesia


Setelah berhasilnya Revolusi Iran, berbagai varian tulisan yang berbau Iran mulai didistribusikan. Akibatnya, secara independen akidah Syiah tersiar di belantara nusantara. Tulisan-tulisan tokoh Syiah membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomeini, dan filsafat Syiah yang miring, oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.

1. Penerbitan Buku

Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan  Syiah adalahMizan, yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua merupakan lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada 7 Maret 1983. Buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000—3.000 eksemplar, berjudul Dialog Sunni-Syiah, Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kairo Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amili, Seorang Ulama Besar Syiah. Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.

Penerbit Syiah ini banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, yaitu Muhammad al-Bagir al-Habsyi, yang dikenal sebagai tokoh yang mengidolakan Syiah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syiah pada dekade 1980—1990, sehingga masyarakat pun mencap Mizan sebagai corong Syiah.

Kemudian Syiah menerbitkan sejumlah majalah dan buletin, hingga kini yang tersebar di antaranya;

- Majalah al-Quds, diterbitkan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam bahasa Indonesia;

- Majalah al-Mawaddah, diterbitkan oleh IJABI Cabang Bandung, Jabar;

- Majalah al-Hikmah, diterbitkan Yayasan al- Muthahhari Bandung;

- Bulletin al-Jawad dan al-Ghadir, diterbitkan oleh Yayasan al-Jawad Jakarta;

- Bulletin at-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan al-Muthahhari,

dan majalah serta buletin lainnya yang tersebar di Nusantara.

2. Pendirian Yayasan

Pada 3 Oktober 1988, Haidar Bagir, Agus Effendi, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, serta Jalaludin Rakhmat, mendirikan Yayasan Muthahhari. Jalaludin Rakhmat pada awalnya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan Said Hawwa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Husein al-Habsyi membuatnya berafiliasi kepada Syiah dan mulai aktif berbicara seputar akidah Syiah.

Orientasi dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka dari itu, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syiah yang pertama di Kota Kembang Bandung.

Hingga 2001, Syiah telah mendirikan 36 yayasan di Indonesia dan terus bertambah sampai sekarang. Di antara yayasan yang telah mereka dirikan ialah

- Yayasan Fatimah, Condet Jakarta;

- Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta;

- Yayasan Mulla Shadra, Bogor;

- YAPI, Bangil;

- Yayasan Al-Itrah dan Yayasan Al-Hujjah, Jember;

- Yayasan Madina Ilmu, Bogor;

- Yayasan Al-Baro’ah Tasikmalaya;

- Yayasan As-Salam, Majalengka;

- Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta;

- Yayasan Rausyan Fikr, Jogya;

- Yayasan Al-Ishlah, Cirebon;

- Yayasan Al-Wahdah, Solo;

- Yayasan Al-Amin, Semarang;

- Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo;

- Yayasan Pintu Ilmu, Palembang;

- Yayasan Al- Hakim, Lampung;

- Yayasan Ulul Albab, Aceh;

- Yayasan Arridho, Banjarmasin;

dan lainnya.

3. Pendirian Pesantren

Selanjutnya, pada 1989, berdiri pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak guna menjembatani para pelajar Syiah untuk bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran.

Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dikirim ke Iran untuk belajar, di samping ribuan lainnya yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan, dan kegiatan lainnya.

Di antara tempat pengajian, sekolah, dan pesantren milik Syiah adalah MT. Ar-Riyahi; Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah Jakarta; Pengajian Al-Bathul, Cililitan Jakarta; Majlis Ta’lim Al-Idrus, Purwakarta; Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang; MT Al-Jawad, Tasikmalaya; dan Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo.

Dalam kategori pesantren, tercatat

- Pesantren YAPI, Bangil;

- Pesantren Al-Hadi, Pekalongan;

- SMA PLUS MUTHAHHARI, di Bandung dan Jakarta;

- ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Jakarta cabang London;

- Sekolah Lazuardi dari Pra-TK sampai SMP, Jakarta;

- Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok;

- dan Madrasah Nurul Iman, Sorong.

4. Pendirian Ormas

Pada 1998, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan atau era reformasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi pemekaran Syiah di Indonesia. Hal itu menjadi jalan mulus untuk menanam bibit Syiah di Indonesia.

Bahkan, pada orde Gus Dur, berdirilah untuk pertama kalinya ormas Syiah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Ormas IJABI tepatnya berdiri pada tahun 2000 di Bandung dengan Jalaludin Rakhmat menjabat Ketua Dewan Syura IJABI dan Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan Tanfidziyyah. Posisi IJABI kemudian semakin kokoh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari Pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000.

Sampai tahun 2008, anggota yang terdaftar mencapai jumlah 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 subcabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Pada kongres pertamanya di Bandung, Jalaludin Rakhmat memberikan klaim bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.

Organisasi lainnya yang didirikan Syiah antara lain

- Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor;

- HPI—Himpunan Pelajar Indonesia—Iran;

- Shaf Muslimin Indonesia, Cawang;

- MMPII, Condet;

- FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok;

- Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT);

- Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan sekitarnya (BKPPI);

- dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).

Kemudian pada 2011, di Bandung, kembali jamaah Syiah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) yang kemudian menjadi wadah sosial antara Sunni dan Syiah dalam versi yang ‘abu-abu’.

(Majalah Asy Syariah edisi 102 hlm. 11—14)
Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah Dalam Pandangan Islam

Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah Dalam Pandangan Islam

Oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi hafizhohulloh

Manusia terfitrah sebagai makhluk sosial. Hidup mereka saling bergantung satu dengan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan mereka dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lantas menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lakilaki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kalian saling mengenal.” (al-Hujurat: 13)

Manakala menjalani kehidupannya dengan berbangsa-bangsa dan bersukusuku, secara sunnatullah manusia membutuhkan pemimpin yang dapat mengurusi berbagai problem yang mereka hadapi. Itulah manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang mendapatkan kepercayaan dari-Nya untuk memakmurkan bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan berbagai fasilitas kehidupan untuk mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami mengangkut mereka di daratan dan di lautan, Kami memberi mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami melebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (al-Isra’: 70)

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai penguasa di bumi? Adakah selainAllahsembahan yang lain?! Amat sedikitlah kalian dalam mengingat(Nya).” (an- Naml: 62)

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tak membiarkan manusia hidup begitu saja. Berbagai aturan hidup dan jalan yang terang pun Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada merekasupaya berbahagia di dunia dan di akhirat. Termasuk dalam hal hubungan antara rakyat dan pemerintahnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

Rakyat dan Pemerintah, Kesatuan yang Tak Bisa Dipisahkan

Dalam Islam, rakyat selaku anggota masyarakat dan pemerintah selaku penguasa yang mengurusi berbagai problem rakyatnya adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Berbagai program yang dicanangkan oleh pemerintah tak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dan sambutan ketaatan dari rakyat. Berbagai problem yang dihadapi oleh rakyat juga tak akan usai tanpa kepedulian dari pemerintah. Gayung bersambut antara pemerintah dan rakyatnya menjadi satu ketetapan yang harus dipertahankan.